wrapper

Beaking News

INI ceritanya belum lama.  Di bulan puasa Juli 2014 yang lalu itu saya mendapat undangan dari mitra bisnis di Korea Selatan untuk berkunjung ke Tiongkok.  Tidak ada istimewa dari kunjungan ke Negeri Tirai Bambu itu, karena saya ada beberapa kali melakukan kunjungan pribadi ke sana.

Ini bukan cerita ‘todong-menodong’ gaya lama di Jakarta di tahun 1960-an yang nodong beneran, atau ‘todong-menodong’ di tahun setelah reformasi untuk meminta sumbangan atau sponsorship.  Ini cerita todongan lain.

Begini.  Teman saya, Mr. Albert Kim, melalui telepon bilang: “Adinda, punya waktu kah untuk bergabung dengan saya dan teman-teman bisnis Korea untuk berkunjung ke China?”

Lalu, dijelaskannya di China ada konperensi IT, informasi teknologi, 12 Juli 2014, yang akan dihadiri sekitar 1000 orang pakar dan tokoh-tokoh industri Tiongkok dan dalam event itu akan diluncurkan suatu platform berbasis internet, seperti Facebook, bernama EL World.

“Jangan lupa, ini khan bulan Ramadhan, saya tahu Anda berpuasa,” kata Kim lagi.

Dasar saya mantan seorang diplomat, maka curiosity dan semangat ‘willing to learn new things in life along the way’ yang juga merupakan naluri seorang wartawan langsung saja mengiyakan.  Apalagi Albert Kim bilang, paket ini akan kita luncurkan di Indonesia dan “saya minta Anda untuk mempelajari program baru ini secara mendalam, karena ini tugas Anda nanti di Indonesia melakukan peluncuran serupa.”

Bagi umat Islam puasa itu kewajiban.Sebagai diplomat atau wartawan yang mengembara ke berbagai pelosok tempat di dunia ini tidaklah mengubah diri saya dan lupa pada tradisi indahnya bulan Ramadhan.  Jadi, puasa Ramadhan itu sudah built-in, melekat dalam sanubari dan naluri yang tidak akan mengganggu pekerjaan bahkan di musim panas sekalipun.

Di belahan bumi bagian utara, di Eropa atau Amerika Utara, musim panas menjadi hari terpanjang bisa 15-16 jam!  Saya ingat, ketika tugas di Uni Soviet (sekarang Rusia), pada saat anak pertama saya masih berusia 2 bulan di tahun 1986 itu puasa Ramadhan tiba.  Dan, umat Islam di KBRI terutama sebagian besar taat dengan ketentuan puasa.  Kami sahur jam 02.30, dan jam 03.40 sudah Subuh, dan berbuka puasa sekitar jam 20.00, praktis puasa berlangsung selama sekitar 16 jam!  Tentu, sebagian lagi berdalih ikut dengan waktu Jakarta, mereka berbuka puasa ya sekitar jam 18.00 saja, padahal matahari masih mencorong.  Aneh tapi nyata.

Sahabat yang saya suka panggil ‘abang’ Albert Kim ini pria unik.  Dia dulu pada zaman Perang Vietnam adalah seorang Marinir Korsel, dan kemudian sehabis tugas itu dia merantau 40 tahun di New York, Amerika Serikat. Meskipun saya pernah bertugas di New York, tetapi tidak pernah bertemu dia.Kami malah bertemu di Jakarta, seusai tugas saya di Polandia.Nanti saya bahas tersendiri persahabatan saya dengan teman yang banyak kisah-kisah menarik.

Mengetahui saya OK untuk perjalanan ke Tiongkok itu Mr. Albert Kim meminta saya lagi membawa seorang teman yang banyak membantu kami dalam membangun bisnis di Indonesia.  Terutama di bidang media, pembuatan website, katalog dan berbagai media IT lainnya.  Dialah Santany, mengaku anak Medan yang berusia 30-karena ayahnya orang Medan yang merantau ketika bujangan ke Jakarta.  Teman ini bekerja dengan kesungguhan hati dan saya kenal juga dari Twitter, lalu membantu membangun website saya [www.hazpohan.com] dan website Edwin, anak saya yang mewarisi bakat Ompungnya menulis, membuat web-nya sendiri bertajuk ‘SciTech Reporter’ [www.edwinpohan.com].  Edwin tertarik membangun web sendiri, karena profesinya sebagai wartawan ilmu pengetahuan dan teknologi, dia memiliki ribuan artikel dalam berbagai informasi tentang temuan-temuan baru di bidang teknologi.Santany juga yang membantu Parpoda membuat web Parpoda kita ini. [www.pohanparpoda.org].

Singkat kata, kami berdua, saya dan Santany, berangkat ke Tiongkok bersama Albert Kim dan temannya pemilik paten dan pimpinan perusahaan Korea yang menjual lisensi produknya kepada pengusaha Tiongkok, Dr. Kyongchul Kim.  Berempat kami berangkat via Hongkong, dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Shenzhen dengan bus, sekitar 2 jam.

Saya ingat, kami menumpang Garuda, berangkat hampir tengah malam dari Soekarno-Hatta menuju Hongkong dalam sekitar 4,5 jam penerbangan.  Tidak apa-apa, nanti bisa beristirahat dengan baik, dan apalagi kepada kami berdua diberikan kelas bisnis, jadi bisa selonjoran atau rebah-rebahan seperti tidur di rumah saja.  Pagi buta jam 0600 pesawat dijadwalkan mendarat di Hongkong.

Ketika tiba di Hongkong, matahari telah mencorong, maklum masih di musim panas  matahari terbit sekitar jam 5 pagi.  Di bandara Hongkong itu kami telah dijemput seseorang yang gayanya agak urakan, dengan pakaian yang sangat biasa.  Tampak luar, dia seperti tukang taksi gelap dan datang dengan seorang supir  yang menyetir mobil sangat sederhana dan tanpa AC pula.  Di musim panas meskipun sudah ke arah utara tetapi udara agak lembab sehingga panas.  Bayangkan, kami semua berjas, melakukan perjalanan 2 jam menuju Shenzhen di dalam mobil tanpa AC.  Tetapi, kedua teman perjalanan kami dari Jakarta itu ramai dan tidak memperdulikan kegerahan itu.

Tetapi dari cara dia berkomunikasi dengan Albert Kim dan Dr. Kyongchull Kim itu menandai mereka telah berteman lama.

Ternyata penjemput kami itu, juga bermarga Kim.  Selintas saya dengar dia orang bisnis dan kenalan lama mereka.   Saya juga tidak tahu seperti apa bisnis yang dia jalankan. 

Mr Kim ini belakangan saya tahu dia berkewarganegaraan Korea tetapi lama bermukim dan mengembangkan usahanya di Tiongkok. Sayang dia tidak berbicara bahasa Inggeris, cuma bahasa Korea dan China saja sehingga ketika berbicara dengan saya terpaksa Mr. Albert Kim yang menjadi interpreter. Wah, ada 3 Mr. Kim yang bersama kami.Maklum di Korea marga Kim ini salah satu marga dengan populasi terbanyak.  Bila Anda melemparkan batu kecil ke kerumunan maka 7 dari 10 kemungkinan batu kecil itu akan mengena Mr. Kim, begitu kata orang Korea.

Mr. Kim bergaya supir taksi gelap ini menarik.Ketika dia berbicara dalam bahasa Korea dia sepertinya anggap semua orang tahu bahasa Korea.  Dia pasti tahu saya saya tidak mengerti bahasa itu, kecuali kata ‘kamsa hamida’ artinya terima kasih, atau salam ‘anyang azheo’ yang saya pelajari ketika menjadi mahasiswa di Seattle, Amerika Serikat, dan di kota ini saya banyak memiliki teman-teman di graduate school orang-orang Korea yang ramah.  Itu di tahun 1983-1985.

Tidak apa-apa, saya tahu berbasa-basi bagi pebisnis adalah suatu keramahan yang mutlak perlu, suatu cara pendekatan orang bisnis untuk menjalin hubungan, dan tentu saja nantinya hubungan bisnis.Tidak perlu jauh-jauh, teman-teman kita orang Minang itu sangat pandai beramah-tamah, meskipun akhirnya Anda tidak membeli barang dagangannya bagi dia tidak apa-apa.  Seperti pengalaman saya di Istanbul, kota yang sering saya kunjungi ketika bertugas di Bulgaria, para pedagang di pasar besar di tengah kota terbesar Turki itu para pedagang ramahnya luar biasa.  Kalah orang Minang! 

Di suatu saat saya berkunjung untuk pertama kali ke Istanbul.  Ketika saya lewat saja dan melirik ke toko-toko yang berjejer-jejer itu langsung salah satu pemilik took souvenir memanggil ramah dan menyapa: “Mari masuk, lihat-lihat saja tidak usah dibeli.  Anda dari Indonesia? Assalamualaikum!,” kata sang pedagang kepada saya yang masih terbengong-bengong.  Pada saat itu saya dan isteri belum naik haji, dan si pedagang menyapa isteri saya: “Hajjah..hajjah… mari masuk, istirahat sejenak,” padahal kami baru saja tiba dan masih segar.

Kita orang Indonesia sungkan menolak keramah-tamahan, dan apabila orang-orang di negeri asing tahu sedikit tentang negeri asal kita, maka hatipun menjadi senang. “Soekarno…Soeharto… sangat dikenal di negeri kami,” katanya sejurus kemudian dalam bahasa Inggeris yang lumayan lah.  Kami pun memasuki took souvenir yang berisikan berbagai ragam barang-barang untuk buah tangah di bawa pulang.

Ketika kami duduk, pemilik toko itu langsung memanggil melalui telepon untuk memesan minuman.  “Mau kopi atau teh?  Teh atau kopi Turki itu sangat fenomenal dan memang nikmat pula.Turki yang pernah menguasai Eropa, terutama di daerah Balkan, selama 500 tahun memiliki banyak pengalaman dan budaya menarik.

Saya memilih kopi pekat yang rasanya mirip Espresso, dan isteri memilih teh kental Turki yang terkenal itu, “Tak usah belanja, kopi dan teh ini gratis untuk tamu-tamu terhormat dan saudara Muslim saya dari negeri jauh yang indah,” katanya mengumbang.  Entah ramah benar, atau taktik dagang you never know, kata orang New York.  Begitulah pengalaman nyata saya di Turki itu.

Kembali ke cerita utama. Kami masih di bandara Hongkong. Melalui terjemahan Mr. Albert Kim saya mengetahui bahwa Mr. Kim yang bergaya supir taxi gelap ini sedang menjelaskan program selama beberapa hari kami berada di Shenzhen, terutama proceedings atau susunan acara yang nanti siang akan diselenggarakan.  Jadi kami dalam beberapa jam istirahat, makan siang, dan langsung menuju ruang seminar IT yang juga berada di hotel itu.  Mantaplah…

Saya amati, Mr. Kim bergaya supir taksi gelap ini memang bukan penjemput biasa, dia adalah mitra bisnis Dr Kyongchull Kim dan memiliki perusahaan yang relatif menonjol di Shenzhen dan Hongkong.  Saya sendiri baru menyadari manusia supir taxi gelap yang gayanya yang juga mirip penjual bubur ayam di kampung tempat tinggal saya di Cikini ini adalah orang bisnis yang hartanya bermilyar dolar!  Dia memiliki kantor 2 lantai di kawasan terkemuka di Shenzhen dengan puluhan karyawan!  Saya belum begitu paham apa cabang-cabang usahanya.  Yang pasti, dia adalah sohib Dr. Kyongchull Kim dan menjadi pemegang lisensi untuk Tiongkok dalam bisnis EL World media yang dahsyat itu.  Nanti kita bahas khusus tentang apa itu EL World yang dikatakan sebagai platform baru yang telah menggeser kedudukan Facebook.

Kembali ke cerita penjemputan itu.  Di tengah-tengah perjalanan dari Hongkong yang mulus menuju Shenzhen itu dia memohon kepada saya untuk menjadi pembicara utama (keynote speaker) sekaligus untuk secara resmi meluncurkan EL World di Tiongkok daratan!

“Excellency Ambassador, I would like to request your indulgence to be our main speaker and to officiate the official launching of the EL World’” begitu Mr. Albert Kim menerjemahkannya.

Wow, halus nian bahasanya Mr. Kim ‘tukang taksi gelap ini’.   Meskipun dia hanya mengucapkan dalam bahasa Korea tetapi luar biasa juga orang ini, fikir saya.  Sejurus kemudian saya menjawab:

 “It’s my honor, and I accept this ‘challenge’.  I’ll do my best as your guest to do my part as you have requested,” kata saya seperti biasa seorang diplomat ketika berbicara dalam bahasa Inggeris yang baik pada saat bertemu dengan counter-part nya.Dengan siapapun, diplomat itu harus ramah.

 Ah, saya fikir ini khan acara biasa dan saya terbiasa untuk dadakan diminta berbicara dalam event-event internasional di hadapan orang-orang asing.  Ini tidak lain merupakan salah satu pekerjaan diplomat.  Saya pada saat menjadi diplomat dari rank rendah sampai mencapai tingkat duta besar sudah dilatih untuk hal-hal seperti ini.

 

Bahkan, sebagai diplomat kita diminta proaktif dan bertindak membela nusa dan bangsa di berbagai fora internasional.  Saya ingat, bahkan di suatu ketika saya dijahili oleh teman saya orang Polandia yang meminta saya menjadi pembicara dalam suatu seminar bersama orang Israel, dan saya didudukkan pula semeja dengan orang Yahudi itu.  Celaka nih! Saya segera mengingat SOP yang diberikan Menlu RI, apabila para diplomat berurusan dengan Israel.Saya hapal benar soal-soal seperti ini.Nanti di suatu waktu saya akan berbagi pengalaman-pengalaman unik ketika menjadi diplomat.  Banyak cerita yang telah saya kumpulkan suka-duka menjadi diplomat di luar negeri.  Percuma menjadi cucu Sibagot ni Pohan kalau tidak memiliki ‘nyali’ untuk bertarung dengan orang-orang multi bangsa di dunia ini, fikir saya.

 

Ah, ini pekerjaan biasa dan saya telah tampil ribuan kali berpidato, berbasa-basi dan bahkan memimpin perundingan antar-negara maupun menjadi pembicara di forum internasional yang membahas masalah-masalah utama di dunia, bahkan di Dewan Keamanan PBB, mewakili bangsa kita dan negeri kita yang  hebat dan indah ini.

 

Yah, begitulah awal perkenalan saya dengan Mr. Kim ‘tukang taksi berubah menjadi pebisnis hebat’ ini dan setelah check-in di hotel The Panglin berbintang 5, saya dan Santany pun beristirahat sejenak, tidur 2 jam karena tadi malam di pesawat saya bekerja untuk beberapa paper yang perlu saya siapkan untuk berbagai acara ke depan.  Jadi, lumayan dapat tidur 2 jam dan kamipun bersiap-siap menuju tempat acara.

 

Di tempat acara peluncuran itu saya melihat orang antri mendaftarkan diri di registrasi saya bertemu kembali dengan  Mr. Kim pebisnis hebat ini, dan dia memang benar-benar tampil beda.  Pakaian jas yang dikenakannya pastilah bermerk dengan dasi yang mahal dan serasi pula  Bagus nian!  Baru saya menyadari, ternyata dia menjadi host dan dia memainkan peranannya dengan baik.

 

Kami bersalaman sebentar. Dia ngomong terus berbahasa Korea dan saya tidak mengerti lebih dari bahasa tubuhnya.Sayang Mr. Albert Kim tidak berada di tempat itu. Setelah berbasa-basi, saya langsung ditariknya dan diperkenalkan dengan begitu banyak orang.  Mungkin teman-temannya atau panitia atau dignitaries (orang-orang penting) saya pun tidak begitu paham karena mereka tampaknya sama rapinya, sama-sama happy. Begitu pula dengan wanita-wanita yang hadir, semuanya berpakaian bagus dan serasi.Yang muda-muda mungkin mereka tenaga protokoler dan beberapa di antaranya menyapa saya dengan hormat dalam bahasa Inggeris yang baik.

 

Yang paling mengesankan ketika dia memperkenanlkan seorang Tiongkok yang bertubuh tinggi besar, tampak berusia lebih tua dari saya, kalem dan berwibawa, namun ramah.

 

Manusia bertubuh jangkung ini ternyata seorang mantan direktur bank terkemuka di China dan telah pension.  Dia menjadi chairman pada perusahaan Mr. Kim si “supir taksi gelap” tadi.  Chairman itu dalam pemahaman dunia bisnis adalah  jabatan ini lebih tinggi daripada sekadar CEO!  Dia menjadi pimpinan dari group sejumlah perusahaan milik “si tukang taksi gelap.” Menurut penjelasan belakangan saya dengar dia tidak sekadar chairman, pimpinan group usaha, tetapi juga pemegang saham juga.

 

Di acara ini, teman saya dari Jakarta, Santany, memilih untuk tidak duduk di barisan terdepan bersama saya. Dia saya tugaskan untuk mengikuti presentasi dengan baik sambil sekaligus menjadi ahli dokumentasi, memotret di sana-sini, dan merekam bagian terpenting dengan video.

 

Di barisan terdepan itu saya diperkenalkan lagi dengan berbagai dignitaries, ada pengusaha, pejabat, maupun kalangan ahli IT terkemuka di Tiongkok, termasuk beberapa rector universitas teknologi IT dari Tiongkok maupun Korea.  Cukup lama juga dan saya menghabiskan waktu untuk berbasa-basi, bertukar kartu nama.

 

Fikiran saya terpusat kepada peran yang tadi telah saya setujui, menjadi orang pertama dalam acara dan akan menyampaikan key-note speech dan setelahnya meresmikan peluncuran produk IT baru itu.  Tentu, yang paling saya fikirkan adalah saya mau omong apa?  Saya tidak memiliki waktu untuk mendalami A to Z produk baru yang bernama EL World.Tidak ada speech yang telah dipersiapkan seperti ketika saya menjadi dubes.Tidak ada pula bahan-bahan briefing substantif yang diberikan.  Namun, sebagai mantan diplomat, nyali sebagai Anak Medan dan cucu dari Sibagot ni Pohan saya terbiasa mengiyakan suatu permintaan dan tantangan seperti ini lalu berfikir kemudian. 

 

Sebagai Anak Medan, tidak ada kamus gagal bagi saya untuk tugas ini.  Saya pun mulai membuat catatan, revisi kembali, tambah kiri dan kanan di kertas note kecil saya.  Sampai akhirnya saya puas dengan kertas kecil ukuran 7 x 10 cm, sudah berisi pointers, poin-poin penting yang nanti saya uraikan in promptu atau berbicara spontan tanpa teks.  ‘Todongan’ itu suatu kehormatan. [bersambung]

 

 

Last modified on Monday, 19 August 2019

Leave a comment

For using special positions

Special positions is: sticky_left, stickey_right, notice, tool_bottom. You can use them for any module type. And to use, please go to Module Manager config your module to your desired postion.

You can disable by:

  • Go to Administrator » Template Manager » Your_Template » Tab: Advanced » Use special positions » select: No for all special positions
  • Go to Administrator » Module magager » Your_Module(by postion: sticky_left/stickey_right/notice/tool_bottom) » Status: Unpublish for that module

For customize module in special position

The solution is used Module Class Suffix. You can customize button, module content follow Module Class Suffix

Ex: Module Class Suffix: bg-white @bullhorn then:
- Class of buttom is 'icon-bullhorn'. If without @... the default is 'icon-pushpin'. You can find the full icons of usage at Font Awesome  
- Class of module is 'bg-white'

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Green Red Radian
Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family