wrapper

Beaking News

DAHSYAT.  Itu kata yang terlontar ketika saya berkunjung pertama kali ke Korea Selatan, atas undangan seorang teman, pada tahun 2013 yang lalu, ketika ditanya apa kesan saya. 

Bayangkan, negeri yang dijajah Jepang selama 35 tahun yang tidak langsung merdeka pada akhir Perang Dunia II ketika Jepang dibom oleh Amerika Serikat, hancur lebur pada Perang Korea di tahun 1950-an, tetapi dalam waktu ‘sekejap’ Korea Selatan mampu membangun ekonominya secara impresif. 

 

Dan, dalam sekejap pula Korea Selatan merajai produksi elektronik, termasuk smartphones, dan otomotif di seluruh dunia.  Di negeri ini, setiap menit lahir inovasi baru, berkat ratusan ribu insinyur bekerja di lembaga-lembaga R & D, riset dan pengembangan.

Korea Selatan telah menjadi salah satu negara industri terkemuka di dunia.  Tidak saja awam seperti saya kagum, bahkan banyak pakar yang mengakui keberhasilan itu.  Dalam tahun 2005, Korea Selatan telah merajai di bidang akses internet tercepat di dunia, semikonduktor, monitor berlayar datar dan tipis, dan tentu saja mobile phones.  Bahkan, kini Negeri Ginseng itu telah menjadi nomor 1 di dunia dalam shipbuilding, ketiga dalam produksi ban, keempat dalam  synthetic fibres, nomor 5 dalam otomotif, dan keenam dalam industri baja.

Dalam ukuran PDB atau disebut GDP, negeri ini kini telah menduduki nomor 12 terbesar, tingkat pengangguran yang rendah dan relatif merata dari segi distribusi pendapatan.  Sebagai catatan, Indonesia yang puluhan kali lebih besar daripada Korea Selatan menduduki tempat ke-15 dalam PDB riil, dengan pengangguran yang relatif tinggi dan distribusi pendapatan yang jurangnya kian menganga.

Mari kita saksikan betapa cepatnya mereka membangun ekonomi negeri.  Dari posisi yang sangat rendah di tahun 1953, setelah perang berakhir, negeri ini mengalami ‘keajaiban Sungai Han’.  Pendapatan perkapita turun menjadi USD 67 yang lebih rendah daripada sebelum perang, 40 persen infrastruktur hancur, dan turunnya produksi pertanian 27 persen.  Jelas tanpa upaya, dari dalam dan bantuan luar maka rakyat Korea Selatan akan menderita kelaparan. 

Baru mulai tahun 1962 Korea Selatan mulai membangun kembali ekonominya. Dalam kurang dari 30 tahun negeri ini menjadi seperti yang kita kenal sekarang, tumbuh cepat dari negara agraris menjadi negara industri dan perdagangan top.

 

Siapa Sang Arsitek?

DIA tidak lain adalah Jenderal Park Chung-Hee, yang baru saja melakukan kudeta setahun sebelumnya, 1961.  Jangan tanya caranya membangun itu apakah alon-alon asal kelakon?  Jenderal Park terkenal keras dan negeri ini dipimpinnya secara otoriter.  Ini tidak dapat dibantah.  Tetapi kita harus melihat hasil kepemimpinannya, dan ini yang mengagumkan.

Karena rasa ingin tahu ini saya menyempatkan berziarah ke rumah di mana dia dilahirkan dan dibesarkan orangtuanya di kota Gumi, sekarang menjadi salah satu pusat industri IT.  Pengamatan saya di Gumi saya turunkan dalam artikel selanjutnya.

 

Strong and Visioner Leadership

KOREA sekarang tidak mungkin bisa dibangun tanpa 2 kata kunci peranan Presiden Park Chung-Hee di negerinya: strong and visioner.  Memang Park memulai karirnya sebagai tentara Jepang.  Tidak lama dia mengabdi menjadi guru, karena dia lulusan sekolah guru, diapun mendaftar dinas militer dan menjadi lulusan terbaik No. 2.  Kenapa No. 2? Karena dia berkebangsaan Korea, dan yang menjadi lulusan No. 1 tidak boleh orang lain kecuali Jepang.

Nama Park terkait dengan kediktaturan militer.  Dengan bantuan temannya seorang Kolonel bernama Kim Jong-Pil, Mayjen Park menggulingkan pemerintahan sipil pimpinan Yun Po-Son, pada tanggal 6 Mei 1961, yang sebenarnya sekutunya ketika menggulingkan pemerintahan korup dan otoriter piimpinan Syngman Rhee.

Dengan cepat Jenderal Park mengonsolidasikan kekuatannya.  Tidak hanya politik, semuanya kekuatan sosial, ekonomi dan tentu saja militer berada dalam genggamannya.  Sebagai mantan tentara, dia paham arti stabilitas, pembangunan ekonomi maupun pertahanan negeri.  Jangan lupa, setelah Perang Korea, dia masih berhadapan dengan ancaman Korea Utara yang didukung China.

Apa pendapat Park tentang demokrasi?  Rakyat Korea ingat dengan jelas pesan Presiden Park bahwa “setelah saya mati, silahkan kalian menerapkan demokrasi, tetapi tidak pada masa saya masih hidup!”  Ucapan ini saya kutip pada 2 seri artikel sebelumnya: “Apa Rahasia Kemajuan Negeri Korea Selatan?

Jenderal ini bukan tidak paham apa itu asas demokrasi.  Hanya, demokrasi hanya akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan akan memecah belah bangsa serta memperlemah pertahanan nasional.  Yang disetujuinya adalah ‘demokrasi terbatas’ yang menghambat kebebasan berbicara dan berasosiasi, dan tentu kemerdekaan pers.

Ketika para mahasiswa melancarkan aksi demo ingin menyetop pembangunan highway yang menghubungkan utara ke selatan dan timur ke barat negeri itu di tahun 1960-an, Park memerintahkan tank-tank menggilas mereka yang berbaring di jalan.  Dia tidak suka berkompromi hanya untuk suatu kebodohan tanpa visi tanpa pengorbanan.

Style-nya memimpin negeri miskin ini gampang saja.  Seperti zaman Orde Baru di Indonesia, Park mengandalkan dukungan tentara (termasuk intelijen), birokrat dan teknokrat.  Tentu saja pada waktu Park mulai berkuasa Orde Baru belum lahir. Park yang dididik di sekolah militer pemerintahan kolonial Jepang, ternyata mencontoh revolusi di era Meiji, dan dia menyebut tema pembangunan itu sebagai “Ishin Ideology” yang berarti ‘revitalisasi’. 

Gaya kepemimpinan inilah yang disebut oleh para pakar sebagai ‘bureaucratic authoritarian regime’ model.  Dia menjadi contoh yang orisinal.  Di Amerika, ketika saya studi di tahun 1983, nyata sekali Washington tidak suka pada pemerintahan represif militer Korea yang anti-demokrasi dan HAM.  Orang lebih suka pada Kim Dae-jung yang mengasingkan diri ke Amerika setelah kalah melawan Park dalam pemilu yang penuh kecurangan, kata media Amerika.

Baik, kita lihat langkah Jenderal Park di awal berkuasa.  Langkah pertamanya Park adalah pemulihan hubungan dengan Jepang, guna menarik penanaman modal dan bantuan ekonomi kepada mantan negeri jajahan itu.  Selanjutnya, dia berupaya menjadi ‘good boy’ bagi Amerika guna memperoleh dukungan dan pengakuan.  Ketika permintaan bantuan ditolak Amerika, dia pun mencari dukungan dari mana-mana.  Dari Jerman, dan bahkan dari Iran.  Dia mencari bantuan bukan untuk dikorupsi tetapi adalah membiayai impiannya membangun ekonomi Korea.

Dia juga memanfaatkan peranan teknokrat untuk pengembangan industri berorientasi ekspor, terutama produk manufaktur, dan akhirya industri berat: baja, galangan kapal, dan pembuatan mesin.

Banyak pakar mengakui, bahwa pada saat pembangunan sebenarnya atribut demokrasi atau otoriter itu tidak relevan.  Dalam membangun, pemimpin harus memutuskan yang terbaik.  Cara-cara menjadi nomor dua.  Model pembangunan ala Jenderal Park memang menempatkan negara sebagai kekuatan utama yang menentukan dalam proses industrialisasi itu.  Sehabis perang, harapan untuk kebebasan memang meningkat, tetapi Park lebih mengutamakan stabilitas, seperti salah satu unsur penting dalam Trilogi Pembangunan-nya Pak Harto. Dan, Park seperti karakternya tanpa-kompromi, memilih jalan keras dan represif.  Dia padamkan semua lawan politik.  Jika menteri atau pembantunya tidak becus dia tidak segan-segan memecat.  Syukur dipecat, jika perlu ditembak di tempat!  Menteri-menterinya jika dipanggil ke istana pasti gemetar, terutama yang suka pencitraan dan tanpa kompetensi atau berbohong, belum jelas apakah bisa pulang atau hanya tinggal nama.  Di tengah-tengah gejolak regional dan Perang Dingin, dan ancaman dari saudaranya di Korea Utara, cara no nonsense ini efektif dan sukses.

Pada tanggal 6 Desember 1971, atas nama keamanan negara ketika dilanda demonstrasi besar-besaran, Presiden Park menyatakan keadaan darurat, membubarkan parlemen, dan menutup semua universitas yang menjadi basis aksi demo.  Dia juga melarang kegiatan politik, dan pada bulan Oktober 1072 dia menerbitkan dekrit yang terkait dengan ‘Yushin Constitution’ yang menjamin kekuasan kediktatorannya.  Berdasarkan Konstitusi ini pula lembaga yang dibentuknya, National Unification Council, memilih dia tanpa batas untuk menjadi presiden.  Dia juga mengakui adanya parlemen, tetapi sepertiga anggota merupakan penunjukannya.  Dia telah mengontrol parlemen. Dan dia didukung tentara, polisi, birokrat.

Lengkap sudah cercaan dunia internasional kepada dirinya, terutama Amerika.

Memerintah otoriter dengan tujuan, barangkali lebih tepat kita menempatkan kebijakan Presiden Park secara proporsional.  Apakah dia gila atau nyentrik? Bukan.  Apakah dia mabuk duit dan kekuasaan? Bukan pula.  Atau apa?

“Memang pada awalnya dia dituduh korupsi oleh lawan-lawan politiknya, tetapi setelah Park wafat ternyata tuduhan itu hanyalah isapan jempol belaka,” ujar Albert, seorang Korea teman saya yang menemani ketika berziarah ke rumah Presiden Park, di suatu sore itu di kota Gumi, kelahiran Jenderal Park.

“Selama Park memerintah dari tahun 1962 sampai wafat ditembak oleh kepala dinas intelijen Korsel di tahun 1979, dia hanya bekerja dan bekerja.  Park tidak suka diganggu dengan debat berkepanjangan tanpa jalan keluar.  Dia cerdas, tetapi kurang toleran terhadap ‘pertanyaan bodoh’ apakah dari parpol, parlemen maupun media,” jelas Kim.

Korea Selatan di bawah Park Chung-Hee memang unik dan orisinal.  Saya tertarik sekali pada individual ini.  Beruntung, teman saya Kim yang pengagum Park ini memiliki latar-belakang keluarga yang cukup dekat dengan Jenderal Park.  Saya berkesempatan menggali informasi yang lebih dalam, nanti akan saya turunkan dalam artikel “Jenderal Park, Manusia Pribadi”.

Park memang menjadi contoh seorang pemimpin yang hebat.  Dia pintar dan cerdas pula.  Kemampuan bawaan lahir itu dikombinasikannya dengan teknologi, pengetahuan dan kemampuan manejerial yang juga memiliki sisi stimulus ekonomi. 

Jika Jepang setelah kalah perang dilucuti kekuatan militernya, maka Park menggunakan kekuatan militer itu untuk ekonomi, terutama dalam memperkuat basis bagi perkembangan industri Korsel ke depan.

 

Apa Kebijakan Ekonomi Park?

KEBIJAKAN ekonomi seorang pemimpin di negeri yang membangun sangat menentukan masa depan negeri itu.  Park memilih apa yang disebut sebagai “Economic Planning Board (EPB)”. Ini institusi terpenting bagi Park karena memprioritaskan pembangunan ekonomi.  EPB membuat kebijakan dan program ekonomi serta bertugas mengucurkan dana.  Meski masih negara miskin, EPB ini sangat powerful.  Park langsung mengawasi semua kegiatan pembangunan di dalam negeri.

Dalam tulisan lalu “Apa Rahasia Kemajuan Negeri Korea Selatan?” saya mengucapkan 5 resep yang dipakai oleh Korea Selatan dalam membangun negeri secara fantastis dari puing-puing yang tidak berharga.  Di balik semua upaya bak mukzizat ini peletak dasarnya adalah Presiden Park Chung-hee, yang berkuasa 18 tahun di semenanjung bagian selatan Korea itu.

Di sini, peranan negara dalam mendorong pertumbuhan ekonomi adalah mengarahkan dan membentuk kondisi yang memudahkan untuk masuknya investasi modal, baik dari luar maupun dari dalam negeri, untuk produksi dan akhirnya ekspor.  Dan EPB itu instrumen terpenting bagi Park.

EPB memulai gebrakannya pada bulan Juni 1961, diketuai seorang perdana menteri yang bertanggungjawab terhadap Rencana Pembangunan 5 Tahun, seperti Repelita di jaman Soeharto.  Bedanya, Park menentukan 4 tahapan capaian, masing-masing dalam kurun 5 tahunan.  EPB mulai bekerja setahun berikutnya, 1962.

Repelita I, (1962-1966) membangun struktur industri untuk kemandirian bangsa, Repelita II (1967-1971) tahapan modernisasi landasan industri dan pembangunan industri pengganti impor.  Repelita III (1972-1976) membangun industri yang berorientasi ekspor, dengan mengutamakan industri berat dan kimia, dan pada tahapan akhir Repelita IV (1977-1981) untuk memajukan industri nasional yang dapat bersaing secara internasional di pasar global.

Pada tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata 10 persen selama 20 tahun dengan berbagai tantangan di zamannya –termasuk ketika menghadapi oil shock pertama dan kedua di tahun 1970-an serta krisis moneter 1998, Korea tumbuh secara fantastis.  Dari pendapatan perkapita 67 dolar pertahun (1953) menjadi 20 ribu dollar entah resep apa yang digunakan.  Pasti ada strateg di balik itu.  Dialah Jenderal Park, peletak dasar negeri Korea modern.

Perencanaan, penganggaran dan implementasi dari tahapan Repelita menjadi tanggungjawab dari Menperin, Menkeu, Menteri Pembangunan, Menhub, dan Menteri Komunikasi, Mentan bersama Menteri Perikanan semuanya di bawah kendali EPB.  Superbodi EPB ini pula yang menyusun target capaian, untuk semua variabel ekonomi, seperti investasi, konsumsi, tabungan, keluaran, tingkat produktifitas, impor dan ekspor, serta rincian alokasi dana secara sektoral.

EPB bersama para menteri terkait memiliki otoritas di bidang perubahan pajak, tarif, subsidi, dan tarif umum, pengawasan harga barang-barang tertentu, perubahan lisensi impor, lisensi investasi, dan penggunaan valuta asing serta penerbitan lisensi baru untuk usaha baru tanpa menunggu persetujuan dari parlemen.  EPB juga mengawasi perbankan, dan pemerintah menjadi pemegang saham terbesar di perbankan nasional.  EPB juga membuat analisis tentang pasar internasional dan menyampaikan laporannya kepada perusahaan ekspor.

Salah satu kebijakan pokok Park dalam pembangunan adalah implementasi dari sistem transfer teknologi, dan untuk itu apapun dilakukan untuk memperoleh teknologi dari Barat di dalam situasi di mana Korsel mendapat dukungan dari Barat. Ke dalam, pada saat bersamaan Korsel menerapkan sistem pembelajaran dan penyerapan teknologi tanpa henti.

Park menyatakan, teknologi transfer itu teramat penting bagi survival Korsel, dan karena itu dia ingin negerinya bisa menyamai negara-negara maju di Barat.  Dia juga mencanangkan bahwa dalam waktu 20 tahun industri Korea harus bisa melampai Jepang.  Dia menetapkan standar industri yang tinggi Korea dengan benchmark Jerman!  Kedua komitmen itu tercapai dan terwujud.

Sebenarnya industri Korsel sudah ada sejak pendudukan Jepang dan diperlukan sebagai penyangga industri Jepang.  Namun, Korsel mendapat manfaat dari warisan Jepang ini, di bidang tersedianya infrastruktur jalan, kereta api, listrik, irigasi, pendidikan dan manajemen industri dan buruh, sehingga sejumlah pabrik sudah ada dan siap untuk mengembangkan program industri substitusi impor.

Tak luput, Jepang yang mundur dari Korea di tahun 1945 dipaksa Amerika untuk menjual semua pabrik yang ditinggalkan dengan harga murah kepada pengusaha Korsel.  Para zaman Presiden Syngman Rhee inilah telah dimulai industri substitusi impor, seperti tekstil, tepung terigu, dan pabrik gula.  Di era Presiden Park, dia membentuk konglomerasi yang disebut sebagai “Chaebol”, seperti misalnya LG, Hyundai, Daewoo, Samsung, Posco dan lain sebagainya adalah bagian dari proteksi negara. 

Sayangnya, pada era Chaebol namun justru korupsi dan investasi gila-gilaan yang mengandalkan pinjaman luar negeri karena dolar murah ini kemudian menghantarkan Korea pada ‘buble economy’ yang mengawali terjadinya krisis moneter di tahun 1998.

Chaebol memang mirip dengan Zaibatsu di Jepang, yang artinya konglomerasi.  Chaebol menguasai berbagai layanan, menentukan harga dan mendirikan hubungan langsung antara industri dengan keuangan.  Chaebol kemudian tumbuh menjadi raksasa, dikuasasi oleh beberapa protege sejak zaman Park sampai akhir 1990-an.

Chaebol ini tumbuh seperti ‘negara dalam negara’ klik di antara berbagai bisnis besar, dengan ciri-ciri khas kuatnya hubungan antar-keluarga yang kemudian menjalar ke politik dengan merangkul pemerintah atau birokrat di dalamnya dan tentu saja atas dasar saling-menguntugkan.

Presiden Park menggunakan Chaebol untuk penumpukan modal dan mendukung usaha mereka, melalui bimbingan kepada mereka untuk mewujudkan pembangunan industri manufaktur, seperti elektronik, otomotif, dan semikonduktor.  Berbagai jenis produk yang tidak diperlukan di dalam negeri dimaksudkan untuk ekspor.  Pemerintah menyediakan berbagai fasilitas kredit ekspor, utamanya dari Jepang dan Amerika.

Sukses pertama diraih Korsel dari ekspor produk industri ringan seperti tekstil dan garmen, komponen elektronik, kayu-lapis, dan bahan-bahan dasar seprti produk kimia, petroleum, kertas dan baja, pada masa 1964 – 1974. Negara tujuan ekspor utama adalah Amerika Serikat.

Korsel kemudian memasuki era kebijakan industri berat dan kimia di paruh kedua tahun 1970-an.  Pada saat inilah Korsel mulai bergeser dari industri ringan menuju industri berat.  Misalnya di tahun 1973 pemerintah memberikan prioritas pda pembangunan industri berat dan kimia, seperti industri kapal, permesinan, baja, otomotif dan petrokimia.  Pertama, karema adanya pembatasan pada ekspor industri ringan yang sangat tergantung pada buruh murah yang mulai dirasakan sulit ketika itu.  Kedua, adanya perubahan dalam struktur impor, yakni meningkat dengan cepat penggunaan bahan-bahan impor untuk keperluan ekspor produk jadi yang menyebabkan perubahan pada neraca anggaran.

Rencana industri berat dan kimi ini adalah upaya pemerintah dalam memelihara laju industrialiasasai.  Pada zaman ini rencana besar dari berbagai Chaebol itu didukung oleh Presiden Park meskipun mendapat tentangan dari para teknokrat.  Namun, rencana ini didukung oleh tentara karena diperlukan dalam membangun industri militer di kemudian hari.

Para konglomerat bernama Chaebol ini memperoleh pinjaman uang tanpa-bunga dalam rangka membangun pabrik berorientasi ekspor.  Misalnya, Hyundai ditugasi membangun industri otomotif.  Daewoo yang memiliki spesialsiasi dalam industri tekstil diinstruksikan untuk menangani industri permesinan, galangan kapal, dan mobil.  Presiden Park memaksakan konstruksi sejumlah industri dasar, termasuk baja yang kemudian melahirkan POSCO, atau Pohang Steel Company.  Sayangnya, kebijakan ini dihambat oleh berbagai kesulitan dari luar, misalnya krisis minyak dan resesi ekonomi dunia.  Inflasi juga menambah kesulitan Korsel. 

Namun beruntung, karena di Korsel sektor konstruksi berkembang di negeri-negeri petro dolar sejak oil shock I dan II, memperoleh kesempatan besar, khususnya dalam pembangunan proyek-proyek besar negara-negara kaya minyak di Timur Tengah.  Kebanyakan indusri di Korsel mendapat manfaat dari masuknya investasi luar negeri dan transfer teknologi dari Jepang, ketika Park membuka hubungan diplomatik di antara kedua negara.

 

Gerakan “Saemaul Undong”

Berbicara tentang pembangunan yang menghantarkan Korsel menjadi seperti sekarang tidak lengkap apabila tidak menyinggung bagaimana Presiden Park membangun daerah pedesaan dan pedalamannya.  Di sini lahir yang disebut sebagai “Saemaul Undong Movement” yang merupakan warisan dari Presiden Park.  Saemaul Undong adalah gerakan yang bertujuan untuk membangun dan memodernisasi pedesaan.  Tujuannya adalah membangkitkan semangat kemerdekaan dan kemandirian dengan menciptakan gerakan di pedesaan yang memaksakan kerjasama atau saling-membantu untuk memperbaiki taraf hidup rakyat setempat.

Sejarah Saemaul Undong dimulai ketika pemerintah Korsel di bawah Presiden Park menerapkan konsep di tahun 1971 untuk mengatasi masalah karena ketimpangan pembangunan kota dan desa karena memprioritaskan pembangunan industri berorientasi ekspor.  Yang parah, para anak muda berduyun-duyun mengadu untung ke kota besar yang menimbulkan masalah yang lain pula. Cerita tentang Saemaul Undong ini telah saya tulis di artikel sebelumnya “Apa Rahasia Kemajuan Negeri Korea Selatan?”

Saemaul Undong ini menjadi pencerah bagi masyarakat pedesaan untuk menggerakkan ekonominya, menghubungkan kegiatan antara industri dengan pertanian, antara daerah tradisional dengan modern dan berhasil.  Pada awalnya seperti top-down approach, namun setelah berjalan kegiatan pembangunan pedesaan ini berubah menjadi bottom-up approach karena banyak masukan yang diperoleh dari pedesaan. Banyak inisiatif muncul dan yang jelas partisipasi masyarakat kian meningkat.  Koperasi berubah dari ketergantungan pada pemerintah menjadi self-help dan self-management yang berhasil!  Kerjasama antar-pedesaan dalam suatu rangkaian produksi juga meningkat.  Ego sektoral yang termasyhur di negeri kita padam seketika di Korea.  Ini yang direkayasa oleh Presiden Park ketika mencetuskan ide ini.

Lebih baik dibenci luar negeri dan dituduh otoriter tetapi mencintai dan dicintai rakyat daripada proyek pencitraan mencintai rakyat tetapi pada ujungnya menyengsarakan mereka.  Mungkin ini yang terfikir oleh Presiden Park ketika itu.

Saemaul Undong berhasil dalam peningkatan pendapatan rakyat, perbaikan lingkungan hidup dibarengi dengan pembangunan infrastruktur, serta dalam peningkatankapasitas serta solidaritas sosial di Korea. Pada gilirannya pendapatan petani meningkat dan investasi masuk yang pada akhirnya menciptakan lapangan kerja baru.  Dalam kurun waktu singkat, pada tahun 1978 (setahun sebelum Park wafat) telah berdiri 706 pabrik di daerah pedesaan

Di akhir hayatnya, Presiden Park berhasil mengangkat ekonomi Korea dari USD 2,7 milyar (1963) menjadi USD 37,9 milyar (1979).  Ini yang mendasari kemudian GDP Korea kini hampir mencapai USD. 1,5 T yang lebih tinggi daripada Indonesia.  Dari negara termiskin di dunia dan dikaruniai tanpa sumber daya alam itu bisa membangun basis industri yang menjadi fondasi bagi Korea Selatan untuk tampil prima di tataran ekonomi global, hanya mengandalkan faktor manusia.  Faktor pemerintah juga positif dalam penyusunan strategi dan kebijakan serta supervisi program yang dimulai secara masif melalui program Saemaul Undong yang berkembang pada cabang-cabang industri modern.  Karena itu, keberhasilan itu tidak semata karena faktor pemerintah tanpa dukungan dari seluruh rakyat Korea yang memiliki kultur kerja, etos kerja, mencintai produk sendiri dan komitmen pada produk dengan standar terbaik dunia.  (Bersambung)

 

Last modified on Monday, 19 August 2019

Leave a comment

For using special positions

Special positions is: sticky_left, stickey_right, notice, tool_bottom. You can use them for any module type. And to use, please go to Module Manager config your module to your desired postion.

You can disable by:

  • Go to Administrator » Template Manager » Your_Template » Tab: Advanced » Use special positions » select: No for all special positions
  • Go to Administrator » Module magager » Your_Module(by postion: sticky_left/stickey_right/notice/tool_bottom) » Status: Unpublish for that module

For customize module in special position

The solution is used Module Class Suffix. You can customize button, module content follow Module Class Suffix

Ex: Module Class Suffix: bg-white @bullhorn then:
- Class of buttom is 'icon-bullhorn'. If without @... the default is 'icon-pushpin'. You can find the full icons of usage at Font Awesome  
- Class of module is 'bg-white'

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Green Red Radian
Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family