wrapper

Beaking News

TAMPILAN café di seberang hotel tempat kami menginap itu menarik.  “Paris Baguette” tertera dengan Menara Eiffel, ikon ibukota Prancis, Paris.  Café itu, dan hotel kami menginap terletak di daerah Gangnam, kawasan yang paling prestisius di seluruh kota Seoul, ibukotSelatan.

Artikel ini bukan mempromosikan café Paris Baguette di Indonesia.  Memang di Indonesia belum pernah saya ketemu chain café ini.  Memang belum ada, tetapi teman saya yakin akan segera ada.  Kenapa?

 “Ber-café ria ini gaya hidup metropolitan, dan orang Jakarta yang cenderung mengagung-agungkan sesuatu yang eksotik dari luar negeri.  Lagipula, di Indonesia ini ada sekitar seten  gah juta expat Korea.  Dan, mereka telah terbiasa dengan menu yang terdapat di café Paris Baguette, baik minuman berbagai jenis dan roti, cake, salad sejenisnya,” begitu ujar teman saya yang memang dia tinggal di Menteng, Jakarta.

 Jadi, dia yakin iklim kondusif untuk membuka chain café Paris Baguette di Jakarta. Ketika dibuka satu maka akan bermunculan outlet-nya di mana-mana di semua kota besar di Indonesia, maupun di Bali.  Jangan lupa, Jakarta dengan penduduk 10 juta itu sudah seperti sebuah negara di Eropa dan di sini aktifitas ekonomi belasan trilyun sehari.  Bayangkan!

Mendengar nama eksotik “Paris-Baguette” ada di Seoul juga menarik perhatian orang Prancis.  Dengarkan cerita keluarga diplomat Prancis ini.

Ketika Catherine Germier-Hamel tiba di Seoul 8 tahun yang lalu bersama suaminya yang diplomat Prancis, wanita berusia 45 tahun itu senang mendengar ibukota Korea Selatan itu ada sebuah kafe yang bernama ‘Paris Baguette’ di berbagai sudut kota.

 Namun, sejurus kemudian dia kecewa ketika mencicipi roti yang kasar untuk ukuran Prancis, “rasanya aneh,” katanya.

 “Bagi mereka menyebut ‘Paris Baguette’ mungkin tidak masalah, bahkan saya kira lucu,” tambahnya.  Kalau kafe ini ada di Paris dan mereka menyebut nama mereka seperti itu saya kira saya akan terperanjat,” tambahnya.

 Paris Baguette sekarang sudah buka pula di Paris.  Itu chain yang pertama, dan letaknya di dekat museum Louvre dan Notre Dame.  Lho, kok belakangan muncul?

 Ms. Germier-Hamel menyatakan teman-teman warganegaranya mungkin tidak menyambut ramah kehadiran Paris-Baguette di Paris

Dia juga heran dengan penamaan makanan kecil di café itu. Makanan yang popular di sini ‘cheese sausage pastry’ itu jenis makanan hotdog yang dicampur keju, kecap dan mayonnaise.

“Mungkin kami chauvinistic, tetapi orang Prancis di sini menganggap tidak ada makanan Prancis yang terdapat di Paris Baguette,” katanya lagi, kecewa.

 

Café Inovasi Korea

 MEMANG café ini penemuan orang Korea.  Perusahaan berantai Paris Baguette itu didirikan tahun 1988 oleh pengusaha Korea bernama Hur Young-in.  Dia ingin meniru cerita sukes Mac Donald, penjual hamburger terkenal sedunia itu, menjadi penjuaal roti berasa Prancis ke seluruh dunia.  Perusahaannya telah bertekad untuk membuka chain di 60 negara pada dalam 6 tahun ke depan.

 Bagaimana kreatifnya orang Korea yang tidak punya Kementerian Industri Kreatif tetapi memang dasarnya kreatif, ya ini, Paris Baguette, salah satu contohnya.  Bayangkan, jika karya-karya kreatif dan inovatif juga hadir kuat di Indonesia, mereka tak usah jauh-jauh menari ide atau temuan dalam soal kuisin.  Indonesia seharusnya menjadi salah satu raja kuisin dunia.

Ambil contoh, dalam soal kopi misalnya.  Mungkin Indonesia bukan Negara eksportir kopi terbesar di dunia.  Nomor tiga-lah setelah Brazil disusul Vietnam. Kalah dengan Vietnam?  Namun, ketika berbicara soal varietas atau jenis kopi maka Indonesia menjadi negeri yang paling kaya soal kopi.  Beberapa café top dunia sekelas gourmet itu menghidangkan kopi-kopi pilihan dari Indonesia.  Beberapa pengusaha Amerika dan Eropa berkeliling di berbagai pelosok daerah tertentu penghasil kopi unik, hanya untuk memperoleh beberapa kilo saja dan kemudian pergi ke daerah lainnya.  Hasil kopi pilihan ini kemudian diracik dan ditampilkan menjadi minuman para selebriti di New York dan berbagai kota besar metropolitan lainnya.  Harga? Wuihh, tak terjangkaulah.  Yang pasti harganya melebihi Kopi Luwak.

Ah, sudahlah tak usah diperdebatkan ketika para entrepreneur kita lebih melihat pasar dalam negeri dan terlalu focus dalam urusan dengan anggaran pemerintah, APBN.  Jadi, kita memang negeri santai.  Tak ada yang perlu dikejar tergesa-gesa. 

“Tak usah repot untuk membentuk brand café atau restoran dengan menu spesifik, yang ada saja sudah tidak terurus dan lahan di Indonesia ini tidak habis-habis,” kata seorang temanku di Jakarta.

Kembali ke cerita pengusaha Korea yang bernama Hur Young-in yang membangun kerajaan Paris-Baguette.  Perusahaan itu ingin menantang pendapat bahwa mereka tidak bisa menampilkan roti gaya Prancis ke seluruh dunia.  “Tidak ada alasan bagi perusahaan Korea yangtidak bia menjadi perusahaan roti chain di dunia,” sergahnya.  Itu menurut Ahn Tae-ju, eksekutif di perusahaan itu yang telah mengembangkan Paris Baguette ke seluruh dunia, dalam wawancaranya.

Di Korea Selatan sendiri kini terdapat sekitar 3250 outlet, belum terhitung sister company-nya seperti L’Atelier, Le Pommier, dan Petit 5.  Di luar Prancis, termasuk China, Amerika, Singapura dan Vietnam, Paris Baguette menyebut dirinya sebagai ‘traditional French bakery’ dan terang-terangan menampilkan menara Eiffel sebagai logonya.

 Di outletnya, para pegawai mengenakan seragam Breton Stripes dan baret ala Prancis.

 

Dalam banyak hal, outlet itu telah berjaya menyebar ke seluruh dunia dengan meremehkan pihak lain bahwa sebenarnya itu perusahaan Korea.  Dan, banyak pula orang Korea yang tidak tahu bahwa sebenarnya Paris Baguette itu adalah perusahaan local Korea beberapa tahun yang lain, menurut Ahn.

Meskipun produknya terkenal dengan roti manis dan sering diisi dengan krem yang disukai di Asia tetapi untuk sukses di Prancis tentu tidak mudah bagi perusahaan itu.

 Prancis adalah bukan hanya tempat bagi Paris Baguette, tetapi juga terhadap roti tercanggih di dunia di negeri yang menganggap roti sebagai identitas nasional mereka.

 

Adonan Paris Baguette itu dibuat di pinggiran Selatan kota Seoul sebelum dibekukan dan dikirimkan ke seluruh dunia, dan di Prancis belum ada tempat pengolahannya.   Tetapi ini tidak menjadi halangan bagi perusahaan itu untuk berkembang di Asia dan Amerika.  Beberapa ekspat Prancis di Korea yang berada di Prancis ingin tahu seberapa jauh perusahaan itu akan mendunia.

 

“Jika rakyat di China dan Singapura berfikir bahwa Paris Baguette adalah roti Prancis, menurut pandangan saya hal ini menyedihkan,” ujar Guillaume Diepvens pengusaha roti Prancis terkenal di Seoul yang dipandang ‘otentik Prancis’.

Hur sendiri paham akan tantangan menjual roti di Prancis kepada orang Prancis yang fanatik terhadap roti orisinal mereka.  Tetapi dia optimis.  “Kami memandang Prancis sebagai rumah spiritual bagi produk kami,” katanya dalam suatu wawancara.

Hur sendiri bukan orang sembarangan.  Dia telah dijadikan oleh pemerintah Prancis sebagai penyandang National Order of Merit dan bangsawan bagi Order of Agricultural Merit, yang memberikan hak baginya mengenakan 2 pita atas kontribusinya terhadap kuisin Prancis.

 Di Paris Baguette outlet Paris yang didaftarkan pada Chambre Professionnelle des Artisans Boulangers-Pattisiers, kelompok pengusaha local, perusahaan Korea itu menyatakan tujuannya adalah untuk “memelihara tradisi para pendahulu di kota Paris.”

 Pada tahap pertama, perusahaan itu akan memekerjakan chef local dan menggunakan bahan dan resep Prancis.  Roti berisi krem dan cake lainnya akan menyusul, ujar juru bicara perusahaan itu.

 Paris Baguette sukses di Korea dan di luar negeri dengan menawarkan rasa roti Prancis, lembut dan bergaram yang digantikan menjadi manis.  Rencana ini berjalan, dan perusahaan induk SPC Group berkembang cepat.  Lokasi di Prancis ‘mengesankan sebuah perusahaan keluarga,” kata Vernique Soenen, seorang pekerja farmasi, ketika dia mencoba éclair au chocolat.

 Tetapi tidak semua senang dengan perubahaan itu.  Lee Kang-san, seorang mahasiswa kedokteran Korea yang sedang belajar di Paris tadinya sangat bergembira Paris Baguette akan membuka cabang di Paris, dan dia hadir pada acara pembukaan outlet itu, merindukan roti krem yang dia sukai ketika berada di Korea.

 “Kami ingin mencoba produk yang kami cintai di Seoul tetapi sayangnya benda itu tidak ada di Paris,” katanya.  “Kami kecewa banget.”

Orang Prancis boleh kecewa, tetapi orang Korea berbahagia untuk menikmati minuman dan makanan dalam suasana yang apik di café Paris-Baguette itu.

 Mungkin, tulisan ini bisa menginspirasi orang-orang muda Indonesia untuk berfikir kreatif dan inovatif, dan tak usahlah menunggu-nunggu Pemerintah yang sibuk dengan slogan-slogan kosong yang mengingatkan saya suasana negeri-negeri Komunis di jaman Perang Dingin di Eropa.  Di sini, dulu, semboyan-semboyan gede di pasang di berbagai sudut kota yakni semboyan mengajak rakyat bekerja, rajin dan yakin akan tujuan revolusi.  Hehehe.

 Peninggalan zaman Orde Lama yang meniru-niru model Komunis Rusia itu “berotot kawat bertulang baja” bermasih banyak terdapat di Jakarta, seperti misalnya Tugu Tani, Tugu Irian Barat, bahkan tugu Selamat Datang yang berada tepat di tengah air mancur, bundaran HI.

 Kalau mau kreatif dan inovatif tak usah ditunggu Pemerintah atau politisi yang sibuk mempertahankan kekuasaannya.

Last modified on Monday, 19 August 2019

Leave a comment

For using special positions

Special positions is: sticky_left, stickey_right, notice, tool_bottom. You can use them for any module type. And to use, please go to Module Manager config your module to your desired postion.

You can disable by:

  • Go to Administrator » Template Manager » Your_Template » Tab: Advanced » Use special positions » select: No for all special positions
  • Go to Administrator » Module magager » Your_Module(by postion: sticky_left/stickey_right/notice/tool_bottom) » Status: Unpublish for that module

For customize module in special position

The solution is used Module Class Suffix. You can customize button, module content follow Module Class Suffix

Ex: Module Class Suffix: bg-white @bullhorn then:
- Class of buttom is 'icon-bullhorn'. If without @... the default is 'icon-pushpin'. You can find the full icons of usage at Font Awesome  
- Class of module is 'bg-white'

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Green Red Radian
Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family