wrapper

Beaking News

TEMAN saya mengingatkan saya n tentang makna idul fitri yang bukanlah rekonsiliasi setelah dengan sengaja, terang-terangan sebagian manusia mengangkangi nilai-nilai Islami, aturan moral, etika yang mengorbankan nilai-nilai kejujuran dan akhirnya merugikan rasa keadilan umat.

Kesengajaan ini berdampak pada situasi politik yang kita hadapi: menunggu keputusan MK mengenai keadilan yang kian langka di Republik ini.

Setelah pengangkangan terang-terangan terhadap nilai-nilai demokrasi, kita diminta ‘melupakan’ apa yang telah terjadi dan memaafkan kesengajaan itu. Meskipun itu bermakna pengangkangan terang-terangan terhadap demokrasi. Akibat perbuatan tercela itu, ongkosnya bukan saja nilai-nilai demokrasi, tetapi juga peradaban yang dibangun.

Bila puasa Ramadhan disikapi sebagai ‘ujian’ dan pembersihan diri agar manusia kembali ke fitriahnya, sesuai dengan kesanggupan dan kondisi tantangan yang dihadapinya, dan dia gagal: dengan diri sendiri, keluarga, masyarakat dan warganegara maka permohonan maaf itu menjadi tulus dan manusiawi.

Dia berhak kembali ke fitriah-nya. Maka shaum akan bermakna ‘penyembuhan’ diri dan dia berhak terhadap peningkatan diri yang ‘certified’. Fitrah manusia sebersih-bersihnya dimaknai sebagai barokah.

Bagimana jika dengan sengaja dan terang-terangan untuk rasa menang-menangan ‘perbuatan dosa’ itu dilakukan dan dia memohon maaf kepada kita dan ampunan kepada Allah swt? Biarlah Sang Pemilik alam semesta ini yang memutuskan.

Saya dengan kefanaan tidak akan mampu menjawab. Tetapi, kita semua tahu apa jawabannya: apakah kita berhak terhadap ‘keampunan’ dan akhirnya arekonsiliasi yang didengung-dengungkan itu acceptable: terhadap sesama, apalagi di hadapan Allah.

Saya sadar, agama bukan bidang yang saya kuasai karena itu saya lebih banyak mendengar nasehat ulama. Saya jarang sekali mengutip kuliah agama, karena takut salah. Cukup berimam saja.

Kemarin saya tergugah ketika shalat Ied. Khatib Ied di Masjid Al Makmur, Cikini mengutip ‘Surat At-Takasur’, dan saya tersentuh. Mungkin pernyataan ini lebih dari sekadar pentingnya rekonsiliasi di permukaan. Rekonsiliasi itu kepada diri sendiri, keluarga, teman bahkan kepada Allah swt, setelah kita ‘berjihad’ selama melaksanakan shaum. Catat: setelah berjihad, berikhtiar keras.

Khatib menerjemahkan ayat demi ayat At-Takasur:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu; sampai kamu masuk ke dalam kubur; Sekali-kali tidak!; Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu); kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui; sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti; niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim; kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri; kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (kemegahan di dunia itu).”

Menurut Khatib: ada 3 obat agar semangat Ied agar manusia kembali ke fitri, jatidirinya, agar berarti bermakna barokah dari Allah swt. setelah kita melaksanakan ibadah shaum, puasa Ramadhan: (1) senantiasa mengingat kematianmu, (2) perbanyak ilmu, dan (3) laksanakan tugas dan tanggungjawabmu yang benar.

Nasehat pertama tidak perlu diuraikan. Jelas kematian adalah hak bagi semua mahluk. Dia akan datang pada waktunya. Nasehat kedua, hidup ini sejatinya adalah belajar dari kesalahan dan senantiasa menyempurnakannya. Alat yang digunakan adalah ilmu, akal sehat, dan pengalaman. Jangan biarkan kebodohan itu berlanjut.

Nasehat ketiga, mengingatkan pertanggungjawaban penuh manusia setelah menempuh hidup di dunia melaksanakan tugas-tugasnya. Jika di dunia pertanggungjawaban itu sulit diukur, tidak demikian di hadapan Allah. Semua yang kita peroleh, kita miliki, dan diamanahkan kepada kita, sen demi sen, dipertanggungjawabkan di hadapanNya.

Ketiga jalan ini penting, amanah untuk pemimpin dan penyelenggara negara untuk menyikapi situasi dihadapi negeri yang sedang di persimpangan jalan. Kembalilah kepada fitrah kejujuran, keikhlasan dan bersyukur.

Kembalikan keadilan dan kebenaran kepada pemiliknya. Agar kita semua selamat.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir bathin.

Jakarta, 6 Juni 2019

 

Last modified on Saturday, 17 August 2019
Tagged under

Leave a comment

For using special positions

Special positions is: sticky_left, stickey_right, notice, tool_bottom. You can use them for any module type. And to use, please go to Module Manager config your module to your desired postion.

You can disable by:

  • Go to Administrator » Template Manager » Your_Template » Tab: Advanced » Use special positions » select: No for all special positions
  • Go to Administrator » Module magager » Your_Module(by postion: sticky_left/stickey_right/notice/tool_bottom) » Status: Unpublish for that module

For customize module in special position

The solution is used Module Class Suffix. You can customize button, module content follow Module Class Suffix

Ex: Module Class Suffix: bg-white @bullhorn then:
- Class of buttom is 'icon-bullhorn'. If without @... the default is 'icon-pushpin'. You can find the full icons of usage at Font Awesome  
- Class of module is 'bg-white'

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Green Red Radian
Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family