wrapper

Beaking News

Apa Rahasia Kemajuan Negeri Korea Selatan? [1]

JIKA sekarang orang mengatakan Korea Selatan adalah hebat tentu susah dibantah.  Negeri ini tampil nyata di international stage, di bidang ekonomi maupun politik. Tetapi, siapa menyangka ketika dunia sekarang ini masih dilanda kemiskinan, di negeri-negeri yang banyak rakyatnya hidup di bawah 1 dolar perhari, keadaan itu pernah hadir cukup lama di Korea Selatan.

Read more

Park: Pemimpin Korea Yang Fenomenal (3)

SEJARAHLAH yang  akan menilai baik buruk seorang pemimpin pada waktu dia tidak berkuasa lagi.  Penilaian yang relative obyektif terhadap kepemimpinan seorang tokoh memang memerlukan waktu yang relatif panjang.  Sering setelah pemimpin itu mangkat atau lengser barulah rakyat bisa memiliki penilaian yang lebih obyektif.

Ketika Park wafat di tahun 1979 memang terjadi euphoria bahwa apada akhirnya demokrasi dan penghargaan terhadap hak asasi manusia akan memasuki era baru di Korea Selatan.  Park wafat ditembak kepala intellijen yang sebenarnya adalah orang kepercayaannya. 

Memang terdapat mixed feelings di kalangan rakyat Korea pada saat wafatnya pemimpin jenius ini.  Di satu pihak, pada masa-masa akhir pemerintahan Park Chung-hee pada masa Konstitusi Yushin ditandai pada puncak-puncaknya dari pemerintahan otoriter anti-demokrasi Presiden Park.  yang kian otoriter  dan banyak menilai periode Yushin ini adalah puncak terburuk dari pemerintahan otoriter Park.  Namun di lain pihak, tidak mudah rakyat mencerna apakah periode ke depan akan lebih baik bagi mereka yang sudah terbiasa dengan gaya kepemimpinan Park selama 18 tHun.

 

Post-Mortem Popularity

DELAPAN belas tahun Park berkuasa adalah periode panjang hampir satu generasi.  Berapa lama diperlukan waktu untuk menilai Park secara lebih obyektif?  Ternyata juga 18 tahun kemudian barulah Park dihargai secara proporsional dan bahkan mengungguli semeua pemimpin Korea baik di masa lampau maupun masa setelah kematian Park.  Di bulan April 1997, ketika Krismon mulai merajalela, sebuah survey menunjukkan 76 persen rakyat memilih Park melebihi presiden berkuasa ketika itu, Kim Young Sam, yang cuma memperoleh nilai positif serendah 3,7 persen.

Trend positif ini kian menguat, bahkan ketika survey yang sama dilakukan di akhir 1997 rakyat Korea menyatakan Park Chung-hee dinobatkan menjadi “ “the most respected historical figure,” melebihi Raja Sejong dan pahlawan Admiral Yi Sun-sin yang pernah memukul mundur pasukan Jepang di akhir abad ke-16.

Hasil survei ini dimanfaatkan oleh politisi yang mengasosiasikan dirinya kurang lebih dengan Presiden Park, bahkan ada yang hanya bermodal tampang mpanye mengusung menjual kemiripan wajah dan posturnya dengan Park.  Tidak kurang rival berat Park, mantan pembangkang Kim Dae-jung, menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah untuk membangun monumen mengenang jasa-jasa Park, di tengah-tengah penolakan oleh aktifis pro-demokrasi.  Park sendiri dituduh menjadi dalang upaya pembunuhan terhadap Kim Dae-jung di masa lampau.

 

Park sendiri memang tokoh luar biasa.  Dia lahir dari keluarga miskin yang sangat menyadari apa arti kemiskinan namun memandang penting nilai-nilai yang membangun harga-diri dan kemuliaan.  Manusia beradab melakukan perbuatan mulia, dan ini dicapai melalui pendidikan. 

 

Pada puncak kejayaannya, Park pernah dituduh KKN dan memperkaya diri sendiri, keluaga atau kronies dan dia menangguk keungungan materi yang luar biasa.  Itu memang belakangan hanya insinuasi yang meniupkan kebencian.  Park pada akhirnya diketahui masyarakat bukanlah tokoh korup yang menggaruk harta Negara dan uang rakyat.  Dan dia diketahui sangat mencintai produk Korea dan sangat hemat.  Dia tidak tertarik dengan kemewahan dan barang-barang luar negeri.

 

Pada saat presiden, Park bahkan mengonsumsi anggur buatan local yang disebut ‘soju’ dan bukan dari Prancis atau Italia. Bahkan pada musim panas dia sering mematikan AC, membuka jendela lebar-lebar dan menyalakan kipas.  Untuk menghemat air dia memasukkan batubata ke dalam tank toilet.  Ketika dia ditembak kepala KCIA kedapatan dia menggunakan jam tangan tua dan sabuk yang sudah usang.  Di kantongnya ada beberapa bungkus rokok buatan Korea saja.

 

Padahal rekam-jejaknya bersih.  Pada masa aktif di tentara sampai berpangkat jenderal, Park paling benci dengan sogokan dan korupsi.  Dia bahkan menyewa rumah sederhana.  Bahkan, ketika dia komandan logistik di tahun 1960 di Pusan Park tidak bergeming.  Tetap hidup hemat dan sederhana, dan tidak mau kongkalikong dengan para jenderal lain yang hidup mewah.  Karena tidak mau berkompromi dan kolaborasi, dalam waktu 6 bulan dia dicopot.

 

Anak Desa: Formative Years

BAGAIMANA masa kecil Park Chung-hee?  Pada masa kecil yang miskin di desa Sangmori, dia karena cerdas karena itu diterima di sekolah kolonial Jepang. Sebagai anak terbungsu ibunya sangat dekat dan saying padanya. Sebenarnya ayahnya, Pak Sŏng-bin berasal dari keluarga tuan tanah (Yangban) namun jatuh miskin), dan suka minum-minum, sementara ibunya bekerja keras buruh tani di ladang orang lain.  Karena serba kekurangan, keluarga sering meminjam bahan makanan atau uang dan dihina masyarakat di kampungnya.  Park sendiri bertubuh kecil, berbeda dengan saudara-saudaranya yang berjumlah 6 orang. 

Mungkin karena ibunya ketika melahirkan berusia 45 tahun, setelah berkali-kali gagal menggugurkan kandungannya karena tidak tahan dengan kemiskinan.

Dari kecil Park kagum dengan dunia kemiliteran.  Karena paling cerdas di sekolahnya dia diterima di sekolah guru elit di Taegu.  Tentu saja orangtuanya keberatan untuk mengirim anak bersekolah di luar kota karena ketiadaan biaya. Meskipun uang sekolah gratis tetapi Park harus membayar asrama dan uang makannya, dan karena itu dia sering bolos.  Di sekolah yang murid-muridnya anak dari kalangan elit ini Park tidak menonjol dan lulus dengan angka pas-pasan. Dia sangat kecewa dan marah sehingga menjadi penyendiri, introvert.

Meskipun dilarang oleh peraturan sekolah, semasih bersekolah dia diminta menikah dengan pilihan orangtuanya, dengan Kim Ho-nam gadis di kampungnya.   Meskipun berpendidikan, Kim bukan pujaan hati Park karena Kim sebagai gadis desa berawasan sempit dan Park ingin sekali melarikan diri.  Pada saat liburan sekolah dia tidak mengunjungi isterinya.  Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman se kampungnya. Dia berpisah meninggalkan isteri dan anak perempuan, Chae-ok, hasil pernikahan mereka dan baru bertemu ketika mereka resmi bercerai di tahun 1950.

Pengalaman di sekolah guru itu tidak seluruhnya suram.  Karena di sini dia banyak berdiskusi dan membaca tentang peristiwa di dunia.  Dia mengenal nasionalisme dan sosialisme yang mulai populer secara sembunyi takut ketahuan dengan pemerintah kolonilal, dengan teman-teman sekolahnya.  Di sekolah itu pula dia belajar dari guru Korea tentang sejarah negeri dan bangsanya bahwa rakyat yang apatis dan militer yang lemah menyebabkan punahnya dinasti Chosŏn di masa silam.  Ini mendarahdaging bagi Park dan di kemudian hari penyakit ini merupakan pemantik bagi program-program pemerintahannya. Di sekolah ini pula dia belajar arti tentang ‘nasionalisme’ untuk mengatasi kemiskinan dan kebodohan yang telah merendahkan bangsanya ditundukkan bangsa lain.  Di sekolah yang kerap mengadakan trip sampai ke Manchuria dan Jepang ini wawasannya berkembang bahwa dunia tidak sekecil kampungnya halamannya di Taegu.

Selanjutnya, karena wajib mengajar setelah lulus Park diterima mengajar di kota dekat kampungnya di Munkyŏng.  Di profesi guru ini Park semakin berkembang pemikirannya.  Tidak jarang dia mengajarkan pentingnya solidaritas social dan semangat untuk membangun bangsa.  Dia memberikan perhatian khusus kepada siswa yang berasal dari keluarga miskin.  Di sini pula dia merasa karirnya ke depan sebagai pemimpin tidak berkembang jauh dan memerlukan format yang lebih besar dan luas.  Dia menghidupkan kembali cita-citanya di bidang kemiliteran.

Setelah menyelesaikan wajib mengajar 3-tahun, Park melamar ke akademi militer di Manchuria.  Tidak mudah, namun dia berhasil diterima, meskipun ketika itu usianya dia tergolong tidak muda lagi, 23 tahun.

Di akademi milier Jepang di Manchuria ini Park sangat menonjol dan lulus sebagai siswa terbaik.  Dan tidak lama, di tahun 1943 perang di Pasifik mulai.  Ketika Jepang menyerah kepada Amerikan di tahun 1945 Park kemudian bergabung dalam Tentara Pembebasan yang dibentuk di Beijing.  Namun unit ini miskin bahkan tidak mampu menyediakan makanan bagi perajuritnya sehingga akhirnya bubar, Park pun kemudian kembali ke kampung halaman tanpa uang sepeserpun.

Frustrasi dan suka mabuk-mabukan, Park akhirnya sadar zaman baru akan tiba dan dia harus mampu menyesuaikan diri.  Dia kemudian masuk unit polisi bentukan Amerika, setelah mengikuti pendidikan enam bulan.  Menyadari panggilan tanah air dia pun kembali memasuki dunia ketentaraan, di usia 30 tahun, diterima dengan berpangkat letnan dua.

 

Dijatuhi Hukuman Mati

PARK tidak mengawali dengan mudah karir militernya. Tidak lama kemudian dia pun ditangkap atas keterlibatannya di politik, ketika dia sudah berpangkat mayor.  Partai politik buruh yang dimasukinya ternyata berbau komunis, maka Park dijatuhi hukuman mati.  Namun, karena dia kooperatif membuka semua jaringan komunis di partai itu akhirnya dia memperoleh pengampunan tetapi tetap dibebaskan dari dinas ketentaraan. 

Hanya atas kebaikan hati para perwira senior yang mengetahui potensi Park, akhirnya dia diterima sebagai pegawai sipil dengan tugas sebagai informan, di bawah pengawasan perwira yang lebih muda dari dirinya.

Di sini Park terkenal jagoan analisis. Meskipun para atasannya kurang percya, tetapi Park telah melihat kemungkinan akan pecahnya Perang Korea.  Pada masa ini Park mulai menggalang perwira-perwira muda yang nantinya menjadi instrumental yang mendukung dia ketika melancarkan kudeta militer di tahun 1961.

Namun di awal kembalinya Park ke dinas militer itu dia menghadapi peristiwa pahit, ibu yang dicintainya itu meninggal dunia.  Kehilangan bu yang melahirkan dia di usia 45 tahun setelah gagal melakukan aborsi itu sangat memukul Park. Merundung malang itu masih ditambah ketika Park diputuskan pacarnya seorang wanita cantik mahasiswi

Namun di awal kembalinya Park ke dinas militer itu dia menghadapi peristiwa pahit, ketika ibunya meninggal dunia.  Masih dirundung malang dia pun putus dengan pacarnya, Yi Hyŏn-ran, seorang wanita cantik mahasiswi Ewha Woman’s University.

Mereka sempat tinggal bersama sampai akhirnya Yin tahu bahwa Park pernah ditahan karena tuduhan komunis. Yin sendiri sebenarnya berasal dari Korea Utara namun melarikan diri dari pemerintah komunis di sana, sehingga khawatir akan ancaman komunis Korea Utara melalui jaringan intelijennya.

Seketika pecah Perang Korea di tahun 1950, Park kemudian direkrut kembali oleh Mabes Tentara Korea karena kekurangan perwira.  Park sendiri berjanji akan berjuang untuk Korea dan ingin membuktikan bahwa dirinya bukan komunis.

Oleh Jenderal Paek Sŏn-yŏp pangkat Mayor Park pun dipulihkan.  Karena hebat dalam 3 tahun setelah Perang Korea usai pangkat Park dinaikkan menjadi jenderal bintang satu.  Park berhasil mencapai cita-citanya menempuh karir militer.

Dan tidak cukup hanya itu, perang membawa keberuntungan baginya karena sempat berkenalan dengan Yuk Young Soo, puteri orang kaya dari Ch’ungju, North Ch’ungch’ŏng, ketika keluarga kaya ini mengungsi ke Taegu, tempat Park bertugas.  Meskipun awalnya tidak disetujui pada akhirnya Park berhasil menikahi  Yuk pada bulan Desember 1950, ketika perang masih berkecamuk.

Setelah perang usai, Park yang anti-korupsi melihat banyaknya perwira militer maupun pejabat sipil berkolusi untuk korupsi.  Dia melihat peluang ketika para mahasiswa beraksi demo menuntut mundurnya President Syngman Rhee dan kemudian

meletakkan jabatan di tahun 1960, juga atas desakan Amerika.  Namun, naiknya pemerintahan sipil yang dipimpin oleh Presiden Yun Po-sŏn  dan PM Chang Myŏn kembali goyah karena keduanya bertentangan.  Di sinilah Park melancarkan kudeta dengan dukungan ribuan tentara, karena dianggapnya situasi sangat berbahaya bagi negara.

   

Bagaimana Park di lingkungan keluarga? 

POTRET seseorang pemimpin itu tidak lengkap tanpa menggambarkan dia ketika berada di tengah-tengah keluarganya.  Bagaimana hubungan dengan isterinya, dan bagaimana dia mendidik anak-anaknya, ini menjadi informasi menarik.

Di atas diceritakan bahwa Park telah menikah namun usia perkawinannya dengan Kim Ho-nam namun rumah tangganya tidak panjang, namun dari isteri pertamanya ini dia memperoleh 1 anak perempuan, bernama Chae-ok.  Tidak ada catatan tentang bagaimana keluarga ini maupun bagaimana mereka mendidik anak, karena praktis Park tidak bersentuhan dengan mereka.

Catatan yang cukup banyak barulah dijumpai pada perkawinan Park dengan putrei saudara, Yuk.  Park dipandang normal menjadi bapak di keluarga pada perkawinannya yang kedua ini.

Park sangat mengagumi dan mencintai Yuk. Dan ibu Negara yang anggun dan senantiasa mendampingi Presiden Park ini juga dicintai rakyatnya.   Dia membuktikan cintanya mendalam pada Yuk sampai pada akhirnya Yuk tewas ditembak ketika mendampingi Park di suatu acara di National Theatre di tahun 1974.  Mereka memang mengalami romantisme perang, dan Park jarang pulang ke rumah.  Sebagai gantinya Park ternyata romantik danvmengirim surat maupun puisi kepada Yuk.  Keadaan sedikit berubah ketika Park dipromosikan menjadi jenderal bintang satu.  Dia pun mulai sibuk dengan karir militernya. Dan Park lebih senang berada di lingkungan kolega militernya.

Read more

Perjalanan ke Tiongkok , Pembina Parpoda “Ditodong “ Di Shenzhen

INI ceritanya belum lama.  Di bulan puasa Juli 2014 yang lalu itu saya mendapat undangan dari mitra bisnis di Korea Selatan untuk berkunjung ke Tiongkok.  Tidak ada istimewa dari kunjungan ke Negeri Tirai Bambu itu, karena saya ada beberapa kali melakukan kunjungan pribadi ke sana.

Ini bukan cerita ‘todong-menodong’ gaya lama di Jakarta di tahun 1960-an yang nodong beneran, atau ‘todong-menodong’ di tahun setelah reformasi untuk meminta sumbangan atau sponsorship.  Ini cerita todongan lain.

Read more

Eksekusi Mati Bagi Chang, Apa Kesalahannya?

EKSEKUSI mati terhadap Chang Song-thaek, wakil ketua Dewan Pertahanan Nasional, orang kuat kedua di Korea Utaram yang tidak lain adalah paman kontan Kim Jong-un itu mengejutkan dunia.  Chang dikenal sangat instrumental menjadi ‘guru’ politik dan pengawal Jon-un di tengah rawannya transisi kekuasaan 2 tahun yang lampau.

Read more

For using special positions

Special positions is: sticky_left, stickey_right, notice, tool_bottom. You can use them for any module type. And to use, please go to Module Manager config your module to your desired postion.

You can disable by:

  • Go to Administrator » Template Manager » Your_Template » Tab: Advanced » Use special positions » select: No for all special positions
  • Go to Administrator » Module magager » Your_Module(by postion: sticky_left/stickey_right/notice/tool_bottom) » Status: Unpublish for that module

For customize module in special position

The solution is used Module Class Suffix. You can customize button, module content follow Module Class Suffix

Ex: Module Class Suffix: bg-white @bullhorn then:
- Class of buttom is 'icon-bullhorn'. If without @... the default is 'icon-pushpin'. You can find the full icons of usage at Font Awesome  
- Class of module is 'bg-white'

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Green Red Radian
Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family