wrapper

Beaking News

SAYA ditugaskan di Bulgaria di tahun 1992 ketika perang Balkan baru saja merebak, manakala pasukan Serbia dengan agenda nasionalis sempit menyerbu ke Bosnia-Herzegovina dan mulai mengancam di Macedonia.  Sebelumnya perang telah diawali pada pertempuran dengan Kroasia yang baru saja memerdekakan diri dan mengakibatkan pecahnya Yugoslavia.

Untuk penyegaran ingatan kita, Bulgaria terletak di kawasan Balkan, di mana Yugoslavia, Albania, Yunani, Turki terletak.  Yugoslavia, atau tepatnya Republik Federal Sosialis Yugoslavia, dibentuk sehabis Perang Dunia II oleh Iosif Broz Tito, pada tahun 1946, terdiri dari Republik Serbia, Republik Bosnia-Herzegovina, Republik Kroasia, Republik Macedonia, Republik Monetenegro, Republik Slovenia, di samping dua wilayah provinsi otonom, Vojvodina dan Kosovo.   Runtuhnya Tembok Berlin di tahun 1989 menandai runtuhnya komunisme di Eropa dan melahirkan negara-negara Eropa Timur yang mendeklarasikan kemerdekaan dari Pakta Warsawa maupun Comecon, bubarnya Uni Soviet, dan pada akhirnya Yugoslavia pecah. 

Ada 2 alasan mengapa Yugoslavia pecah, pertama adalah kesulitan ekonomi yang menyebabkan turunnya kesejahteraan rakyat dan kedua adalah persoalan etnis, karena Yugoslavia itu negara bentukan politik pasca PD II, yang terdiri dari berbagai bangsa dan etnis dengan kebanggaan sejarah masing-masing di masa lampau.  Ini tidak usah kita bahas mendalam.  Mari kita fokus ke Bulgaria, di mana saya menemukan daerah Batak, dan memang ternyata sangat instrumental bagi berdirinya Bulgaria modern, pasca Perang Dunia I.

Di kawasan ini Ottoman Turki pernah berkuasa selama 500 tahun. Kejayaan Ottoman Turki ini sudah kita bahas dalam artikel sebelumnya tentang Islam di Eropa.

Wilayah Batak (Bulgaria: Батак) terletak Provinsi Pazardzhik, di daerah pegunungan selatan Rodophe, 1036 m di atas permukaan laut yang berdekatan dengan  kota Peshtera.  Penduduk Batak ini tidak banyak, tidak lebih 5000 orang, dan di sekitarnya karena berdekatan dengan Turki maka etnis Turki dominan di provinsi ini. Kota Batak ini meski sedikit primitive untuk ukuran Eropa tetapi alamnya indah, banyak pohon pinus dan hutan cemara dan 90 wilayahnya hutan maupun padang rumput. Batak menjadi salah satu kota Bulgaria terbesar dengan istilah wilayah - 667 km2 atau 15% dari luas Provinsi Pazardzhik.

Saya diundang ke daerah ini untuk presentasi dan wawancana dengan Radio FM setempat.  Setelah tugas utama ini selesai, saya menyempatkan mengunjungi obyek sejarah di masa lampau.

Mengagumkan.  Di sini banyak terdapat monumen arkeologi sejak zaman batu.  Karena itu, kawasan ini banyak penggalian arkeologis dan karena banyak bangunan atau tepatnya bukit berbentuk pyramid yang rapi dan simetris.  Di bangunan pyramid ini banyak ditemukan benda-benda masa lampau dan ruangan berbentuk kuburan dengan sejumlah makam kerabat raja-raja di masa lampau.   Bangunan ini banyak menyimpan berbagai peralatan pertanian, dapur, keramik, ornament dan sebagainya.  Memang cukup menarik untuk berkunjung ke Batak. Ada benteng, teater yang berasal dari zaman Bizantium, juga gereja, jembatan, dan situs-situs arkeologis sebagai peninggalan peradaban masa lampau yang perlu dilindungi oleh lembaga internasional, seperti UNESCO.

 

“Tanpa Orang Batak Tiada Kemerdekaan Bulgaria”

SAYA lebih terperangah ketika diajak mengunjungi museum di kota Batak ketika membaca tulisan di dinding: “Besh Batatsi Nyama Svobodna za Balgaria”, tulis Ivan Vazov, penyair revolusioner Bulgaria semacam Chairil Anwar di Indonesia, pembunuhan massal yang berkaitan dengan pada momen sejarah kota ini.  Karena saya mengetahui bahasa Rusia yang juga serumpun Slavic dengan bahasa Bulgaria, dan sama-sama beralfabet Cyrillic, saya membaca deklarasi Ivan Vazov dan paham apa artinya.

“Tanpa orang-orang Batak, maka tidak ada kemerdekaan bagi orang Bulgaria.”  Itu artinya. Mengapa Batak?

Menurut penjelasan pemandu wisata, ucapan pujangga Bulgaria itu muncul ketika perlawanan orang-orang Batak terhadap pengepungan tentara Ottoman di sebuah gereja.  Mereka mengunci diri dan bertahan di gereja itu, bahkan terpaksa menggali tanah dengan alat apa saja yang ada bahkan tangan sendiri untuk mencari air minum sampai akhirnya mereka semua mati kelaparan.  Dan tidak menyerah.  Ini sangat inspiratif bagi Bulgaria yang sedang mencoba melepaskan diri dari cengkeraman penjajahan Ottoman.  Kisah ini dilengkapi pula dengan berbagai peninggalan orang-orang militant Bulgar yang bertahan sampai mati tanpa menyerah di gereja itu.

Dari segi karakter yang keras dan determin tanpa mengenal kata ‘menyerah’ ini mirip dengan karakter dasar orang Batak.  Ini yang membuat orang-orang Batak itu bergerak sangat cepat dan dinamis sehingga menjadi salah satu suku terkemuka di negeri ini.  Sikap tanpa menyerah ini adalah merupakan perlawanan terakhir dari rakyat di sana.  “Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai,” kata pepatah Melayu.  Kehormatan adalah budi dan harta tertinggi dari manusia.  Manusia tanpa kehormatan hanyalah seonggok daging dan tulang, tiada artinya.

Syahdan, kematian orang-orang Batak di gereja karena tidak mau menyerah itu segera menyulut pemberontakan di mana-mana.  Kebangkitan nasional ini tidak cukup hanya bertahan dengan harga diri dan martabat bangsa, tetapi harus ditunjukkan dengan perlawaanan secara fisik, dengan apapun senjata yang tersedia.  Modal semangat saja tanpa ikhtiar atau upaya tiada artinya.

Batak dalam literatur Bulgaria itu bukan etnis, melainkan nama wilayah.  Karena mereka di Eropa dan saya tidak menemukan literatur yang mengaitkan antara Batak di Sumatera dan daerah Batak atau etnis Batak di Bulgaria menurut saya ini etnis dan daerah Batak di Sumatra ini koinsiden belaka, kebetulan.

Penjelasan dari pemandu wisata itu juga dilukiskan oleh salah satu sumber di blog http://fmpb-sumut.blogspot.com/2012/05/pengetahuan-umum-ensklopedia-salah-satu.html.  “Sebuah prasasti di air mancur dari Biara Bunda Maria dari Krichim dibangun oleh masyarakat Batak pada tahun 1592, tertulis dari harta feodal Sultan Suleiman I (1520-1566), di mana desa Batak juga disebutkan, serta sisa-sisa banyak gereja dan biara dibakar oleh Ottoman selama konversi ke dalam Islam di wilayah ini,” tulis blog ini

Menurut riset sumber ini, dalam legenda tua itu berkaitan dengan Batoy kepala suku Tsepino, sedangkan profesor sejarah Yordan Ivanov dan Vasil Mikov menganggap bahwa Batak adalah Potok, sebuah pemukiman asal Cuman ada antara 11 dan abad ke-13.

Syahdan, di masa penjajahan Ottoman Turki, selama berabad-abad sering terjadi perlawanan rakyat, sendirian atau berkelompok, namun dengan mudah dipatahkan.  Rakyat setempat merasakan pahitnya hidup tanpa kehormatan, karena itu ingin membalas dendam dari Turki.  Maka muncul nama-nama pahlawan Bulgar seperti Deli Arshenko Payaka, Gola Voda, Todor Banchev, Beyko, Yanko Kavlakov, Mityo Vranchev, dengan legenda yang dikenal rakyat seperti Haydushka Skala, Haydushka Polyana, Haydushko Kladenche (musim semi), Sablen Vrah ("Sabre Puncak"), Karvav Chuchur ("Bloody Cerat").

Turki memerintah di negeri-negeri kawasan Balkan dan sekitarnya selama sekitar 500 tahun sampai kemudian baru merdeka  ketika dunia memasuki abad ke-20, dengan tumbangnya Ottoman Turki pada akhir Perang Dunia I. Maka tidak aneh, jika pahlawan-pahlawan perlawanan atas penjajahan Turki di Bulgaristan, Yunanistan, Yugoslavistan, Hungaristan adalah sebagian dari nama-nama negeri di bawah penjajahan Turki.  Alkisah, Count Dracula, yang terkenal karena direkayasa oleh penulis Inggeris David Stock menjadi cerita mahluk penghisap darah itu pada dasarnya adalah pahlawan Romania yang banyak membunuh tentara Turki secara kejam dan misterius.  Ketika saya berkunjung ke Museum Dracula keadaan di dalam tidaklah menakutkan.  Banyak turis yang berkunjung di kota yang lumayan jauh dari ibukota Bucharest.  Saya berkunjung ke sini, karena anak-anak saya katanya ingin mengunjungi istana Dracula, tokoh yang mereka kenal dari film-film kartun kegemaran mereka.

“Ah, ini Dracula bohongan,” kata anak-anak saya kecewa karena tidak melihat adanya jejak karakter-karakter yang mereka kenal melalui kartun ini.

Baik, kita kembali ke pokok persoalan seperti apa keadaan orang-orang dari daerah Batak di Bulgaria.  Harap dicatat, agama mayoritas penduduk Bulgaria adalah Kristen Ortodox, dank arena itu gereja mereka juga Ortodox.  Tak usah kita bahas apa beda gereja Ortodox dengan gereja Katolik, yang memerlukan chapter dan kepakaran tersendiri.  Saya bukan pakar pula, dan kita tidak boleh main-main soal agama jika tidak paham betul.  “Maila iba”, atau malu kita kata orang Batak.

Setelah kemerdekaan Bulgaria, 5 Oktober 1908 ditetapkan ibukota negeri di Turnovo, suatu kota yang sangat indah menurut saya.

 

Di daerah Batak ini pertukangan, perdagangan dikembangkan oleh pemerintah colonial Turki, begitu pula pendidikan.  Ini yang disebut sebagai kebangkitan nasional di Bulgaria.  Meskipun di bawah pemerintahan Islam, namun –sekolah non Islam atau pendidikan sekuler dibuka pada tahun 1835.   Gereja St Nedelya ini dibangun tahun 1813 didukung oleh orang-orang Batak di sana. Busilin dan Dragan Manchov.

“Kebangkitan April” Melawan Ottoman

 

ALKISAH, demi harga diri dan kehormatan serta sakitnya di bawah penjajahan, maka orang-orang Batak Bulgaria juga ikut angkat senjata dalam Pemberontakan April 1876. Di bawah kepemimpinan gubernur (voivoda) Petar Goranov, dia memimpin pertempuran selama 5 hari, namun terdesak karena pasukan Ottoman bersenjatakan modern dan akhirnya orang-orang Batak itu mundur dan bertahan di gereja Ortodox, St. Nedelya itu.  Namun Goranov sempat meloloskan diri.

 

Menurut kisah, dalam kebangkitan nasional dan pemberontahan di bulan April 1876 itu tentara Ottoman Turki melakukan pembunuhan massal di seluruh kota Batak, dan menjatuhkan korban sebanyak 1500 orang.  Ada pula yang menyebut jatuh korban sebanyak 5000 orang. Pembuhuhan massal ini menjadi perhatian internasional berkata reportasi MacGhahan, seorang wartawan Amerika,kemudian diturunkan ke dalam catatan “Notes of Bulgarian Uprising” oleh Zachary Stoianov dan oleh Ivan Vazov sendiri di dalam sebuah gereja yang kini telah menjadi museum bersejarah.  Geraja ini menjadi wajbi dikunjungi oleh semua murid sekolah.   Ada yang menyatakan ini merupakan propaganda Komunis Bulgaria yang ingin menyudutkan Turki, karena pada kenyataannya pembunuhan itu dilakukan oleh orang-orang Muslim Bulgaria yang disebut sebagai etnis Pomak.  Nanti cerita tentang suku Pomak, Muslim Bulgaria itu, akan saya tulis terpisah.

 

Gempuran Ottoman di seluruh kita itu menewaskan ribuan rakyat Batak dan kota dibumihanguskan sehingga menjadi perhatian internasional, dimuat di Koran-koran berbahasa Inggris, seperti “Daily News London”.

 

Kemarahan publik pun menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi Rusia dengan semangat Ortodox untuk menyatakan perang terhadap Turki. Dan pada akhirnya terjadi perang antara Russia dan Turki, yang disebut Russo – Turkish War (1877-1878).  Pada akhir perang, antara Rusia dan Turki ditandatangani perjanjian San Stefano yang kemudian mengembalikan Bulgaria menjadi kerajaan otonom, tetapi sejurus kemudian berubah tunduk menjadi bagian dari pengaruh Rusia.  Bahkan, di zaman komunis, Partai Komunis Bulgaria ini menjadi pendukung yang paling loyal di dalam Pakta Warsawa kepada Uni Soviet.

 

Di balik semangat Ortodox itu juga tersimpan ambisi politik Rusia.  Pertempuran itu terjadi di seluruh wilayah Balkan dan Kaukasus, yang sebenarnya berasal dari munculnya nasionalisme di Balkan pada awal abad ke-19.  Rusia berkeinginan merebut kembali wilayah yang direbut musuh pada Perang Krimea (Crimean War) terutama di wilayah di Laut Hitam untuk kepentingan kekuatan angkatan lautnya.

Rusia juga berhasil mengambil kembali beberapa provinsi di Kaukasus, di Kars dan Batumi.  Rusia juga mengambil wilayah di Romania di kawasan Delta Danub, meskipun antara kedua negeri itu ada perjanjian aliansi, saling-mendukung.  Serbia dan Montenegori juga kembali merdeka, seperti juga Bulgaria yang selanjutnya berada di bawah Kerajaan Bulgaria.

“No free lunch” kata orang jika berkaitan dengan politik, apalagi politik internasional.  Yang bodoh hanyut berkeping-keping, yang unggul merajalela.

Kini, Batak menjadi kota modern.  Ini menjadi salah satu lokasi yang direnovasi dengan dukungan Uni Eropa, di  mana kini Bulgaria menjadi anggotanya.  Daerah turis ini tidak saja bersejarah tetapi indah dan kaya dengan sumber mata air mineral.  Di sini juga dibangun Batashki Vodnosilov Pat - dengan 5 bendungan modern , tiga stasiun tenaga air dibangun ketika Bulgaria menjadi satelit Rusia, di tahun 1950.  Sekarang banyak hotel-hotel baru dan kompleks wisata dengan berbagai vila yang dibangun di sepanjang tepi Bendungan Batak.

 

Untuk mengetahui bagaimana keadaan kota Batak sekarang, silahkan undur video:

.

 

Memang tidak terkait dengan Batak dari Sumatra Utara, tetapi saya kira orang-orang Batak di Bulgaria ini memiliki kemiripan dengan kita, jika dilihat dari karakter keras, persisten dan sangat determin untuk berjuang mengangkat harga diri dan kebanggaan atau kehormatannya. (Bersambung)

 

 

Last modified on Monday, 19 August 2019

Leave a comment

For using special positions

Special positions is: sticky_left, stickey_right, notice, tool_bottom. You can use them for any module type. And to use, please go to Module Manager config your module to your desired postion.

You can disable by:

  • Go to Administrator » Template Manager » Your_Template » Tab: Advanced » Use special positions » select: No for all special positions
  • Go to Administrator » Module magager » Your_Module(by postion: sticky_left/stickey_right/notice/tool_bottom) » Status: Unpublish for that module

For customize module in special position

The solution is used Module Class Suffix. You can customize button, module content follow Module Class Suffix

Ex: Module Class Suffix: bg-white @bullhorn then:
- Class of buttom is 'icon-bullhorn'. If without @... the default is 'icon-pushpin'. You can find the full icons of usage at Font Awesome  
- Class of module is 'bg-white'

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Green Red Radian
Select menu
Google Font
Body Font-size
Body Font-family